Selasa, 17 November 2009

PALINGGIH HYANG KOMPIANG, KAWITAN, PAIBON, PADARMAAN

PALINGGIH HYANG KOMPIANG, KAWITAN, PAIBON, PADARMAAN
Tattwa, Kedudukan, dan Perbedaannya
Oleh : Bhagawan Dwija
Pulau Bali pernah mengalami musibah besar di mana rakyatnya melarat
karena bencana alam yang sambung menyambung, tanaman pangan selalu
rusak karena diserang hama, dan wabah penyakit menjalar cepat
mematikan manusia dan binatang peliharaan.
Menurut Rontal Purana Pasar Agung hal ini disebabkan karena penduduk
Pulau Bali tidak "ngaturang aci" dan bersembahyang ke Pura Besakih.
Ketika pemerintahan Raja Mayadanawa selama 15 tahun yaitu sejak tahun
959 Masehi sampai dengan tahun 974 Masehi, rakyat Bali memang benar
dilarang ngaturang aci dan bersembahyang ke Besakih.
Para tentara kerajaan membangun pos penjagaan pertama di pinggir sungai
Balingkang (letaknya di timur pasar Menanga sedikit lewat jembatan
sekarang dikenal dengan pelinggih Yeh Ketipat) dan kedua, di Pura
Manikmas sekarang, untuk menjaga agar tidak ada penduduk yang datang
ke Besakih.
Setiap yang datang ditangkap lalu digiring ke hadapan raja Mayadanawa.
Disaksikan oleh para patihnya yaitu Kryan Patih Kalawong dan Kryan
Bedawong, Raja lalu bersabda : "Renge ling ngong, samangke ngong
angrenge wrtha kunang padartanya ring Basukih hana Dewa, hana Dalem;
ndi hana Dalem waneh lawan ingong, ingong Dalem, ingong Dewa yatika
tan tuhu mangkana sinembah dening wong Bali... dst... iti ta wang ingong
Dalem jati, yan ri Dalem Kadewatan dudu Dalem, ing Basukih dudu Dewa,
ingong Dewa jati, ingong haturi widhi wedana mwah sembahen ta ingong
asung uripta, mwah samidinta... dst"
Jadi, singkatnya, Mayadanawa telah menyatakan dirinya : "akulah Dewa
yang patut kamu sembah, janganlah menyembah Dewa yang ada di
Besakih".
Ini membuat para Dewa di Kahyangan memutuskan untuk memusnahkan
Mayadenawa. Bhatara Indra diutus untuk tugas suci ini, dan akhirnya
Mayadanawa dikalahkan. Bhatara Indra lalu menitahkan agar rakyat Bali
membangun kahyangan di Desa masing-masing, taat ngaturang aci, dan
bersembahyang di Besakih.
Aci yang dititahkan itu adalah : Eka Bwana, Panca Walikrama, dan Eka
Dasa Rudra. Di saat itu Ida Bethara Samodaya nyejer di Besakih, dan
ketangkil oleh seluruh rakyat yang tinggal di Pulau Bali. Bagi Para Rsi, Mpu,
dan arwah leluhur perintis pertama yang datang di Bali dibuatkan palinggih
di Besakih agar dapat ngiring Ida Bethara Samodaya.
Itulah antara lain yang merupakan awal dibangunnya Pura Pedarmaan di
Besakih. Kemudian perkembangan ini lebih pesat setelah kedatangan Mpu
Kuturan di Bali pada tahun 1001 Masehi. Beliau menata kembali
Page 1 of 3 .
parahyangan mulai dari Sanggah Kemulan Rong Tiga untuk pawongan
(rumah tangga),
Sanggah Pamerajan untuk beberapa rumah tangga, di mana dipuja arwah
suci para leluhur yang berasal dari garis satu waris; lebih besar dari
Sanggah Pamerajan adalah berturut-turut : Pura Panti dan Pura Paibon,
untuk penyungsungan bagi beberapa Sanggah Pamerajan, Pura Dadia
untuk penyungsungan bagi beberapa Panti dan Paibon, dan Pura Kawitan,
untuk penyungsungan bagi beberapa Dadia.
Perbedaan status Pura-Pura tersebut ditentukan oleh :
1. Jumlah penyungsung.
2. Jumlah dan jenis Palinggih yang ada.
3. Historis (sejarah berdirinya Pura-Pura itu).
Perlu diketahui bahwa pada umumnya tiap-tiap Sanggah Pamerajan, Panti,
Paibon, Dadia, Kawitan, bahkan Pura Pedarmaan tidak sama baik jumlah/
susunan palinggih, maupun Ida Bethara yang di-stana-kan, karena
masing-masing mengikuti sejarah leluhurnya dahulu.
Mengenai asal satu waris dan hubungan ke-cuntaka-an atau saling sumbah
pada umumnya sudah sulit ditemukan dalam tingkatan Kawitan, karena
demikian panjangnya silsilah leluhur yang melewati batas waktu dalam
hitungan abad (ratusan tahun).
Selanjutnya mengenai Palinggih Hyang Kompiang dapat diuraikan sebagai
berikut : Palinggih Hyang Kompiang merupakan fenomena baru dalam
perkembangan Agama Hindu di Bali yang dimulai sekitar tahun 1970 yaitu
beberapa tahun kemudian setelah diadakannya Karya Agung Eka Dasa
Rudra (1963) di Pura Besakih.
Ketika itu sebelum Karya, diwajibkan untuk "membersihkan" setra, sehingga
pemeluk Hindu ramai-ramai ngaben. Upacara pengabenan dilanjutkan
dengan nuntun Dewa Hyang/Hyang Kompiang ke Pura Dalem Puri di
Besakih. Setelah nuntun lalu Dewa Hyang distanakan di Sanggah
Pamerajan pada suatu bentuk bangunan gedong limas; palinggih itu
dinamakan Palinggih Hyang Kompiang atau Palinggih Dewa Hyang.
Tempatnya berbeda-beda, ada yang di jeroan Sanggah Pamerajan, ada
pula yang di jabaan Sanggah Pamerajan. Sumber sastra mengenai
Palinggih Dewa Hyang ini tidak ditemukan.
Dasarnya membangun Palinggih Dewa Hyang kemungkinan adanya
persepsi yang berbeda mengenai fungsi Kamulan yang menyatakan bahwa
Kamulan adalah stana Sanghyang Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Iswara
atau Sanghyang Tiga Sakti, oleh karenanya Dewa Hyang kurang tepat
distanakan bersama-sama dengan Sanghyang Tri Murti, sehingga perlu
dibangun palinggih tersendiri.
Banyak sumber sastra tegas-tegas menyatakan bahwa Kamulan adalah
stana Atman yang sudah bersih.
Page 2 of 3 .
Kutipan Lontar Gong Wesi : "...ngarania ira sang Atma, ring Kamulan tengen
Bapanta nga Sang Paratma ring Kamulan Kiwa ibunta ngaran sang Siwatma
ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring
dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga..."
Kutipan Lontar Usana Dewa : "...ring Kamulan ngaran Ida Sanghyang Atma,
ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring kamulan kiwa ibu
ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma
dadi meme bapa meraga Sanghyang Tuduh"
Kutipan dari Lontar Siwagama : "...kramania Sang Pitara mulihang batur
Kamulanya nguni..."
Selanjutnya adalah kutipan Lontar Purwabhumi Kamulan : "...ring wus
mangkana, ikang daksina pengadegan Sang Dewa Pitara tinuntunakena
maring sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena maring tengen, yan
wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya
nguni, winastu jaya-jaya de sang Pandita kina bhaktyanana muwah dening
swarganya mwang sentanan nira..."
Semua bukti sastra itu dikuatkan dengan konsep Sanggah Pamerajan
menurut Mpu Kuturan, bahwa Sanggah Pamerajan adalah tempat suci untuk
pemujaan arwah leluhur, di mana palinggih utamanya adalah Kamulan.
Pemujaan terhadap roh leluhur yang suci didasarkan pada pengertian
bahwa karena tujuan akhir adalah bersatunya Atman dengan Brahman (Ida
Sanghyang Widhi atau Sanghyang Tri Murti atau Sanghyang Tiga Sakti)
maka roh suci leluhur itu disembah, didoakan, dan di-identikkan dengan
Sanghyang Tiga Sakti (dalam konsepsi Moksha).
Di sinilah letak perbedaan persepsi yang dikemukakan di atas.
-----------@----------
This page comes from Stiti Dharma Online:
http://stitidharma.org/main
The URL for this page is:
http://stitidharma.org/main/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid
=147
Page 3 of 3 .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar