Senin, 16 November 2009

Budaya.Bali (Arca)

Seperti pernah disampaikan bahwa nama agama dan kitab suci boleh sama yaitu Hindu dengan kitab Wedanya, tetapi dalam pengamalan ajaran bisa jadi berbeda-beda. Anutan yang dipedomani adalah desa-desa-patra dan dresta. Bagi umat Hindu pengamalan ajaran yang berbeda-beda itu bukanlah suatu kesalahan tetapi merupakan cerminan dari tingkat pemahaman, kemampuan spiritual, derajat bhakti yang berbeda-beda. Yang penting bagi Hindu adalah bukan apa yang nampak berbeda-beda tetapi sejauh mana inti sari agama Hindu telah dilaksanakan.

Apa yang dapat disaksikan melalui tayangang film-film India di mana tergambar secara visual bahwa umat Hindu di India lebih menonjolkan penggunaan arca sebagai media pemujaan tidak lain merupakan gambaran nyata betapa India kehidupan sekta (aliran) begitu dominant. Dan pada setiap sekta yang disebut juga dengan istilah sampradaya selalu memiliki sekaligus akan memuja Dewa yang diingini (Istadewata) sebagai Dewa Utama. Dewa utama yang ingin di puja inilah yang kemudian ditempatkan di mandira (mandir) sejenis pura di Bali atau bagi keluarga akan ditempatkan di kamar-kamar suci pemujaan.

Tercatat beberapa sekta atau sampradaya yang berpengaruh, Saiva (penyembah Siwa), Vaisnawa (penyembah Wisnu), dan Sakta (penyembah Sakti). Saiva Sampradaya juga memiliki beberapa aliran lagi seperti, Linggayat (pemuja Lingga), Ganapatya (pemuja Ganesa), pemuja Skanda atau Subramanya, dll. Terhadap Dewa Utama (Istadewata) yang dipuja ini oleh setiap sekta atau sampradaya akan dibuatkan patung atau arcanya. Artinya jika sekta itu termasuk Saiva Sampradaya maka yang dibuat dan kemudian ditempatkan di mandira atau kamar suci pemujaannya adalah Arca Dewa Siwa, begitu seterusnya.

Jika dibandingkan dengan keadaan di Bali, maka nampak sekali perbedaannya. Dimana umat Hindu di Bali (Indonesia) lebih menonjolkan pembangunan pura dengan berbagai pelinggihnya dari pada membuat arca. Dan bahkan pada kenyataan justru lebih komplit. Artinya pura dibangun dengan bermacam jenis dan bentuk palinggihnya, sementara penggunaan arca juga tidak dikesampingkan. Satu lagi yang membedakannya adalah dari segi sifat sisio-religius yang melatar belakangi konsep bhakti antara orang Hindu di Bali dengan di India. Dimana umat Hindu di Bali bhaktinya bermanfaat berjenjang, mulai dari pemujaan di sanggah sampai ke Kahyangan Jagat. Sedang umat Hindu Indian bhaktinya lebih bersifat langsung pada obyek pemujaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar