Selasa, 17 November 2009

Lis

Oleh: Bhagawan Dwija

Pendahuluan

Lis adalah salah satu bagian penting dari sekelompok banten karena merupakan alat pensucian. Menurut Lontar Yajnya Prakrti, banten memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral. Kalimat yang dikutip dari lontar itu: "Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, Ian pinaka anda bhuwana". Artinya: Semua jenis banten melambangkan diri kita sendiri atau umat manusia secara umum, melambangkan kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi, dan melambangkan alam semesta. Dengan kata lain, banten adalah lambang trihitakarana, yakni tiga hal yang mewujudkan kesejahteraan dunia, yaitu parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan palemahan (hubungan manusia dengan alam semesta).
 
Unsur-unsur banten, selain bunga, plawa (dedaunan), buah-buahan, dan tatuwesan atau reringgitan yang penuh dengan ornamen-ornamen indah, dalam Lontar itu ditegaskan sebagai berikut: "Reringgitan, tatuwesan pinaka kalanggengan kayunta mayajnya, Sekare pinaka kaheningan kayunta mayajnya, Plawa pinaka peh pekayunane suci, Raka-raka pinaka widyadhara-widyadhari". Artinya: bentuk-bentuk ornamen sebagai lambang ketekunan untuk berkorban, bunga sebagai lambang kesucian, dedaunan sebagai lambang pikiran baik, buah-buahan sebagai lambang utusan Dewa-Dewi.

Berbagai Jenis Lis

Salah satu bentuk Lis yang paling populer dan digunakan dalam setiap upacara-upakara, adalah Lis amu-amuan (Bebuu). Lis ini terbuat dari janur dengan isi jejahitan, kemudian diikat menjadi satu, terdiri dari:
1.
Tangga menek: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk tangga naik, sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga hal-hal yang bersifat kebaikan selalu meningkat.
2.
Tangga tuwun: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk tangga turun, sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga hal-hal yang bersifat keburukan berkurang atau hilang.
3.
Jan sesapi: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk burung kecil, sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga tujuan me-yajnya tercapai.
4.
Lilit linting: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk lilitan dalam sebuah lidi, sebagai lambang kebulatan tekad untuk berbhakti kepada-Nya.
5.
Lawat buah: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk buah, sebagai lambang permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi, semoga yajnya yang diselenggarakan mendapat pahala kebaikan.
6.
Lawat nyuh: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk buah kelapa, ditandai dengan menyisipkan secuil sabut kelapa, sebagai lambang permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatara Brahma sang Maha Pencipta, semoga penyelenggaraan yajnya ini direstui dan berjalan lancar.
7.
Tepung tawar: terdiri dari beras berwarna putih, beras berwarna kuning kunyit, dan daun dapdap yang dicincang halus. Beras berwarna putih dan kuning kunyit adalah lambang dari keseimbangan hidup manusia, terutama perwujudan rwa bhineda, misalnya: siang-malam, baik-buruk, lelaki-perempuan, dst. Daun dapdap, dalam Lontar Taru Pramana disebut sebagai don kayu sakti. Sakti artinya kekuatan. Jadi lambang don dapdap adalah kekuatan untuk menjaga keseimbangan-keseimbangan trihitakarana dan keseimbangan-keseimbangan rwa bhineda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar