Selasa, 17 November 2009

KONSEP ALAM BERTINGKAT

KONSEP ALAM BERTINGKAT
Oleh : Bhagawan Dwija
Om Swastyastu,
Salah satu filsafat yang berkaitan dengan pola hubungan antara manusia
dengan alam (bagian dari Trihitakarana) adalah konsep keadaan alam yang
bertingkat yaitu "Alam Atas" (Swahloka), "Alam Tengah" (Bhuahloka), dan
"Alam Bawah" (Bhurloka), yang masing-masing mempunyai sifat : Swahloka
adalah Utama, Bhuahloka adalah Madya, dan Bhurloka adalah Nista, dan
dikaitkan dengan "stana" yaitu Swahloka adalah alam Dewa, Bhuahloka
adalah alam manusia, dan Bhurloka adalah alam mahluk rendahan.
Dari pemahaman demikian berkembanglah tatanan : Utama-Madya-Nista
baik secara vertikal maupun secara horisontal. Oleh karena manusia
sebagai konsep sentral pemikiran, maka terjadilah pasangan-pasangan
antinomis seperti :
1.
Kepala manusia disebut sebagai utama, badan disebut sebagai
madya, dan kaki disebut sebagai nista.
Kepala dan badan digabung sebagai "Hulu" dan kaki sebagai "Teben".
Gunung (Keadiya) yang dianggap sebagai stana Dewa-Dewa dipandang
sebagai hulu, dan Laut (Kelot) dipandang sebagai teben. Posisi tidur
meletakkan kepala di hulu dan kaki di teben.
Posisi palinggih-palinggih di Sanggah Pamerajan atau di pura-pura, posisi
duduk diantara orang tua dan anak, antara Sulinggih dan Walaka, dll.
semuanya memperhatikan masalah hulu-teben ini.
2.
Purwadaksina (pradaksina) dan Prasawiya (utarayana), yang artinya
berputar ke kanan (searah jarum jam) dan berputar ke kiri (berlawanan arah
jarum jam), dipahami sebagai peningkatan status atau menuju
Swahloka-Utama (untuk Purwadaksina), dan sebagai penurunan status atau
menuju Bhurloka-Nista (untuk Prasawiya).
Dalam penyelenggaraan upacara yang memerlukan perputaran hendaknya
dipikirkan (jangan dihafalkan) apakah perputaran itu dianggap menuju
Utama atau menuju Nista; jika dianggap menuju Utama, lakukanlah
Purwadaksina; jika dianggap menuju Nista lakukanlah Prasawiya.
Pandita meminta hal ini tidak dihafalkan, tetapi dimengerti, karena untuk
upacara yang sama, tidak selalu perputarannya sama.
Contohnya, upacara mabeakala. Untuk pengantin, mabeakala maknanya
ma-bhuta saksi; oleh karena itu perputarannya ke kiri (Prasawiya). Untuk
Page 1 of 3 .
bapak-ibu yang akan mengupacarakan tiga bulanan anaknya, mabeakala
maknanya meninggalkan masa cuntaka karena melahirkan; oleh karena itu
perputarannya ke kanan (Purwadaksina).
Mekalahyas, dan Ngider Ida Bethara selalu ke kanan (Purwadaksina)
karena menuju Swahloka-Utama.
Memutar mayat/wadah/lembu selalu ke kiri (Prasawiya) karena maknanya
menurunkan status-Nista, dan perpisahan dengan alam Bhuwahloka. Tetapi
perputaran abu jenasah yang akan dihanyut ke segara, dan juga perputaran
abu sekah, selalu dilakukan ke kanan (Purwadaksina) karena maknanya
peningkatan status menuju Swahloka-Utama yaitu dari status Sang Lina
(mayat) menjadi Sang Pitara (ketika Nyekah) dan menjadi Dewa Hyang
(ketika mepaingkup di Sanggah Pamerajan).
3.
Konsep Kiwa-Tengen atau juga disebut sebagai Pangiwa-Panengen atau
dalam Bahasa Indonesia Kiri-Kanan, mengambil anatomi tubuh manusia,
karena manusia dianggap sebagai sentrum (sentral pemikiran).
Konsep ini dikaitkan dengan "Ruabhineda" di mana Kanan adalah Dharma,
dan Kiri adalah Sakti. Filsafat ini masuk ke dalam "Praja" (keluarga) di mana
ibu-ibu rumah tangga disebut sebagai Tengen karena melaksanakan
Dharmaning Praja, yaitu tugas-tugas : mengatur rumah tangga, menyiapkan
bebanten/sajen, memelihara anak-anak, merawat mertua, dll.
Ayah sebagai kepala keluarga berkewajiban menghidupi keluarga atau
dengan kata lain mencari nafkah. Untuk mencari nafkah ia harus bekerja
dengan menggunakan kekuatan badan dan pikirannya atau dengan istilah
filsafat Hindu, ia harus menggunakan kesaktiannya; itu berarti pihak ayah
(laki-laki) disebut sebagai Kiwa.
Lebih jauh filsafat ini memasuki posisi Rong Tiga (Kemulan), di mana rong
sebelah kanan adalah untuk Pradana (Wanita), rong kiri adalah untuk
Purusa (Laki-laki) dan rong tengah untuk Suniaatma.
Kiri-kanan dalam Rong Tiga adalah dari Linggih Kemulan, tegasnya bila
Kemulan menghadap ke Barat, yang kiri adalah yang di Selatan, dan yang
kanan adalah yang di Utara. Bila Kemulan menghadap ke Utara, yang kiri
adalah yang di Barat, dan yang kanan adalah yang di Timur.
Menanam ari-ari, bila bayinya perempuan ditanam di kanan (sebelum)
pemedal rumah, dan bila laki-laki ditanam di kiri (sebelum) pemedal rumah,
kanan dan kiri dari pandangan rumah menuju jalan.
Meletakkan Tugu (Sedahan Karang) tidak memperhatikan kiri-kanan tetapi
memperhatikan hulu-teben. Letakkanlah di bagian teben dari tanah
pekarangan, karena yang di hulu adalah Kemulan Rong-3.
Cara berbusana bagi wanita, ujung wastra dan kampuh selalu menuju ke
Page 2 of 3 .
kanan (dari arah kiri) dan sebaliknya bagi laki-laki.
Sumber sastra : Lontar-lontar Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, dan
Gong Besi.
Om Santih Santih Santih Om
-----------@----------
This page comes from Stiti Dharma Online:
http://stitidharma.org/main
The URL for this page is:
http://stitidharma.org/main/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid
=139

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar