Selasa, 17 November 2009

Sejarah Karangasem

SEJARAH KARANGASEM
Sejarah Kerajaan Karangasem
Dalam menguraikan sejarah Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber yang dipakai sebagaimana yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung (2001). Nama ‘Karangasem’ sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’. Beberapa catatan yang memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti yang diungkapkan dalam Prasasti Sading C yang terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan bahwa Gunung Lempuyang yang menjulang anggun di timur laut Amlapura, pada mulanya bernama Adri Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M) tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra, Bhatara Guru menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti atau Hyang Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti dikutip dalam prasasti berbunyi” gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma) untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata. Hyang Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya yaitu Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang adalah sebagai tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru (Hyang Parameswara) untuk menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan ‘Hyang’ berarti Tuhan; Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau Hyang Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi. Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.
Sejarah Kerajaan Karangasem tidaklah bisa dilepaskan dengan Kerajaan Gelgel terutama pada masa puncak kebesaran di masa pemerintahan Dalem Waturenggong diperkirakan abad XV. Dalam sejarah, kerajaan Gelgel pertama diperintah oleh putra Brahmana Pendeta Dang Hyang Kepakisan bernama Kresna Wang Bang Kepakisan yang diberi jabatan sebagai adipati oleh Patih Gajah Mada.
Setelah dilantik, beliau bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang berkedudukan di Samprangan pada tahun saka 1274 (1352 M). Dalam pengangkatan ini disertai pula dengan pakaian kebesaran serta keris yang bernama I Ganja Dungkul dan sebilah tombak diberi nama I Olang Guguh.
Dalem Ketut Kresna Kepakisan kemudian wafat pada tahun caka 1302 (1380 M) yang meninggalkan tiga orang putra yakni I Dewa Samprangan (Dalem Ile) sebagai pengganti raja, I Dewa Tarukan, dan I Dewa Ktut Tegal Besung (Dalem Ktut Ngulesir). Pada saat Dalem Ngulesir menjadi raja, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel (Sweca Pura). Beliau abiseka Dalem Ktut Semara Kepakisan pada caka 1305 (1383 M). Beliau inilah satu-satunya raja dari Dinasti Kepakisan yang masih sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit untuk menyatakan kesetiaan. Di Majapahit beliau mendapat hadiah keris Ki Bengawan Canggu yang semula bernama Ki Naga Besuki, dan karena tuahnya juga dijuluki Ki Sudamala.
Dalem Ketut Semara Kepakisan juga sempat disucikan oleh Mpu Kayu Manis. Namun, beberapa tahun lamanya setelah datang dari Majapahit, beliau wafat pada caka 1382 (1460 M), dan digantikan oleh putra beliau bernama Dalem Waturenggong. Beliau ini dinobatkan semasih ayahnya hidup pada caka 1380 (1458 M). Jaman keemasan Dalem Waturenggong dicirikan oleh pemberian perhatian terhadap kehidupan rakyat secara lahir dan batin. Masyarakat menjadi aman, tenteram, makmur, dan kerajaan meluas sampai ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang kesusastraan juga mencapai puncak keemasan dengan lahirnya beberapa karya sastra. Keadaan ini mencerminkan bahwa raja memiliki pribadi yang sakti, berwibawa, adil, serta tegas dalam memutar jalannya roda pemerintahan.
Setelah wafat, Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yang belum dewasa yaitu Dewa Pemayun (Dalem Bekung) dan I Dewa Anom Saganing (Dalem Saganing). Karena umurnya yang masih muda maka diperlukan pendamping dalam hal menjalankan roda pemerintahan.
Adapun lima orang putra yang menjadi pendamping raja yaitu putra I Dewa Tegal Besung (adik Dalem Waturenggong) diantaranya I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan. Jabatan Patih Agung pada saat itu dipegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk dan semua kebijakan pemerintahan dipegang oleh Patih Arya Batanjeruk. Melihat situasi seperti ini, pejabat kerajaan menjadi tidak puas. Suatu ketika disebutkan kepekaan para pembesar istana saat raja yang masih belia itu dihadap para pembesar. Raja yang masih suka bermain-main ke sana-ke mari selalu duduk di pangkuan Ki Patih Agung. Dalem Pemayun duduk di atas pupu sebelah kanan dan Ida I Dewa Anom Saganing di sebelah kiri. Kemudian kedua raja ini turun lagi dan duduk di belakang punggung Ki Patih. Isu berkembang bahwa I Gusti Arya Batanjeruk akan mengadakan perebutan kekuasaan. Nasehat Dang Hyang Astapaka terhadap maksud ini tidak diperhatikan oleh Ki Patih Agung sehingga kekecewaan ini menyebabkan hijrahnya Dang Hyang Astapaka menuju ke sebuah desa bernama Budakeling di Karangasem.
Kekacauan di Gelgel terjadi pada tahun 1556 saat Patih Agung Batanjeruk dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan perebutan kekuasaan yang diikuti oleh I Gusti Pande dan I Gusti Tohjiwa. I Gusti Kubon Tubuh dan I Gusti Dauh Manginte akhirnya dapat melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Diceritakan Batanjeruk lari ke arah timur dan sampai di Jungutan, Desa Bungaya ia dibunuh oleh pasukan Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti Oka (putra I Gusti Bebengan, adik dari I Gusti Arya Batanjeruk) serta keluarga lainnya seperti I Gusti Arya Bebengan, I Gusti Arya Tusan, dan I Gusti Arya Gunung Nangka dapat menyelamatkan diri berkat pohon jawawut dan burung perkutut yang seolah olah melindungi mereka dari persembunyian, sehingga sampai kini keturunannya tidak makan buah jawawut dan burung perkutut. I Gusti Oka kemudian mengungsi di kediaman Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada yang menetap di Watuaya, Karangasem. Sedikit diceritakan bahwa Dang Hyang Astapaka juga punya asrama di Bukit Mangun di Desa Toya Anyar (Tianyar) dan I Gusti Oka selalu mengikuti Danghyang Astapaka di Bukit Mangun, sedangkan ibunya tinggal di Budakeling membantu sang pendeta bila ada keperluan pergi ke pasar Karangasem.
Pada waktu itu, Karangasem ada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dan yang menjadi raja adalah I Dewa Karangamla yang berkedudukan di Selagumi (Balepunduk). I Dewa Karangamla inilah yang mengawini janda Batanjeruk dengan suatu syarat sesuai nasehat Dang Hyang Astapaka bahwa setelah kawin, kelak I Gusti Pangeran Oka atau keturunannyalah yang menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I Dewa Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga mempunyai putra dari istrinya yang lain yakni bernama I Dewa Gde Batuaya. Penyerahan pemerintahan kepada I Gusti Oka (raja Karangasem I) inilah menandai kekuasaan di Karangasem dipegang oleh dinasti Batanjeruk.
I Gusti Oka atau dikenal dengan Pangeran Oka memiliki tiga orang istri, dua orang prebali yang seorang diantaranya treh I Gusti Akah. Para istri ini menurunkan enam orang putra yaitu tertua bernama I Gusti Wayahan Teruna dan I Gusti Nengah Begbeg. Sedangkan istri yang merupakan treh I Gusti Akah berputra I Gusti Nyoman Karang. Putra dari istri prebali yang lain adalah I Gusti Ktut Landung, I Gusti Marga Wayahan dan I Gusti Wayahan Bantas. Setelah putranya dewasa, I Gusti Pangeran Oka meninggalkan Batuaya pergi bertapa di Bukit Mangun, Toya Anyar. Beliau mengikuti jejak Dang Hyang Astapaka sampai wafat di Bukit Mangun. I Gusti Nyoman Karang inilah yang meggantikan ayahnya menjadi raja (raja Karangasem II) yang diperkirakan tahun 1611 Masehi.
I Gusti Nyoman Karang menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ktut Karang yang setelah menjadi raja bergelar (abhiseka) I Gusti Anglurah Ktut Karang (raja Karangasem III). Beliau ini diperikirakan mendirikan Puri Amlaraja yang kemudian bernama Puri Kelodan pada pertengahan abad XVII (sekitar tahun caka 1583, atau tahun 1661 M). I Gusti Anglurah Ktut Karang berputra empat orang yaitu tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Putranya yang tertua bernama I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, I Gusti Ayu Nyoman Rai dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem. Ketiga orang putra inilah yang didaulat menjadi raja Karangasem (raja Karangasem IV/Tri Tunggal I) yang memerintah secara kolektif sebagai suatu hal yang dianggap lazim pada jaman itu. Pemerintahan ini diperkirakan tahun 1680-1705.
Selanjutnya yang menjadi raja Karangasem adalah putra I Gusti Anglurah Nengah Karangasem yaitu I Gusti Anglurah Made Karang (raja Karangasem V). Selanjutnya I Gusti Anglurah Made Karang berputra enam orang, empat orang laki-laki dan dua orang wanita. Salah seorang dari enam putranya yang sulung bernama I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti yang dijuluki Sang Atapa Rare karena gemar menjalankan yoga semadi sebagai pengikut Dang Hyang Astapaka. Dalam keadaan atapa rare inilah beliau menghadapi maut dibunuh oleh prajurit Gelgel atas perintah Cokorda Jambe ketika beliau kembali dari Sangeh.
Diceritakan, atas perkenan Raja Mengwi Sang Atape Rare membangun Pura Bukit Sari yang ada di Sangeh. Sekembalinya dari Sangeh beliau sempat mampir di Gelgel yang pada waktu itu berkuasa adalah Cokorda Jambe. Karena tingkah yang aneh-aneh di istana yang tidak bisa menahan kencing menyebabkan terjadi salah paham, dan dianggap telah menghina raja. Maka setelah keberangkatannya ke Karangasem, beliau dicegat di sebelah timur Desa Kusamba, di padasan Bulatri. sebelum beliau wafat, beliau sempat pula memberikan pesan-pesan kediatmikan kepada putranya yakni I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem. Beliau ini kemudian dikenal dengan sebutan Dewata di Bulatri. Peristiwa ini menyebabkan perang antara Karangasem dan Klungkung (Gelgel) yang dikenal dengan pepet (dalam keadaan perang). Setelah gugurnya Cokorda Jambe, maka ketegangan antara Karangasem dan Klungkung menjadi reda.
Tahta di Karangasem kemudian dilanjutkan oleh tiga orang putranya yaitu I Gusti Anglurah Made Karangasem, I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem (raja Karangasem Tri Tunggal II) yang diperkirakan memerintah 1755-1801. Setelah raja Tri Tunggal wafat, pemerintahan Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Gde Karangasem (Dewata di Tohpati) antara tahun 1801-1806. Pada saat ini Kerajaan Karangasem semakin besar yang meluaskan kekuasaannya sampai ke Buleleng dan Jembrana.
Setelah wafat, I Gusti Gde Ngurah Karangasem digantikan oleh anaknya bernama I Gusti Lanang Peguyangan yang juga dikenal dengan I Gusti Gde Lanang Karangasem. Kemenangan Kerajaan Buleleng melawan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja Karangasem (I Gusti Lanang Peguyangan) menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem dikuasai oleh raja Buleleng I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat direbut kembali oleh I Gusti Lanang Peguyangan. Pemberontakan punggawa yang bernama I Gusti Bagus Karang tahun 1827 berhasil menggulingkan I Gusti Lanang Peguyangan sehingga melarikan diri ke Lombok, dan tahta Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus Karang.
Ketika I Gusti Bagus Karang gugur dalam menyerang Lombok, pada saat yang sama Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem berhasil menaklukan Karangasem dan mengangkat menantunya I Gusti Gde Cotong menjadi raja Karangasem. Setelah I Gusti Gde Cotong terbunuh akibat perebutan kekuasaan, tahta Karangasem dilanjutkan oleh saudara sepupu raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Gde Karangasem.
Pada saat Kerajaan Karangasem jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20 Mei 1849, raja Karangasem I Gusti Ngurah Gde Karangasem gugur dalam peristiwa tersebut sehingga pemerintahan di Karangasem mengalami kekosongan (vacuum). Maka dinobatkanlah raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem sebagai raja di Karangasem oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah berselang beberapa waktu kemudian, raja Mataram menugaskan kemenakannya menjadi raja yaitu I Gusti Gde Putu (Anak Agung Gde Putu) yang juga disebut ‘Raja Jumeneng’, I Gusti Gde Oka (Anak Agung Gde Oka), dan Anak Agung Gde Jelantik.
Setelah masuknya Belanda, membawa pengaruh pula dalam hal birokrasi pemerintahan. Pada tahun 1906 di Bali terdapat tiga macam bentuk pemerintahan yaitu (1) Rechtstreeks bestuurd gebied (pemerintahan langsung) meliputi Buleleng, Jembrana, dan Lombok, (2) Zelfbesturend landschappen (pemerintahan sendiri) ialah Badung, Tabanan, Klungkung, dan Bangli, (3) Stedehouder (wakil pemerintah Belanda) ialah Gianyar dan Karangasem. Demikianlah di Karangasem berturut-turut yang menjadi Stedehouder yaitu tahun 1896-1908; I Gusti Gde Jelantik (Dewata di Maskerdam), dan Stedehouder I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem (Dewata di Maskerdam) antar tahun 1908-1941.
Demikian sajian ringkas sejarah Kerajaan Karangasem yang dijadikan gambaran umum kajian pokok objek penelitian. Deskripsi historis hal ini sangat penting mengingat dalam mengupas bagian peristiwa yang termasuk rentetan sejarah tidaklah bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa yang terjadi. Sehingga dalam segi manfaat, dimensi waktu akan dapat ditangkap oleh pembaca mengenai kurun waktu peristiwa dimaksud. Demikian pula dalam kajian ini, maka objek penekanannya adalah saat masa raja Karangasem dinasti Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem.
Masa Dinasti Tri Tunggal I
Masa kekuasaan Kerajaan Karangasem Tri Tunggal I menjadi sajian yang perlu mendapat pemahaman dalam relevansinya menjabarkan objek penelitian. Ketika pemerintahan Kerajaan Karangasem yang diperintah oleh Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem inilah muncul mitologi Pura Bukit sebagaimana diceritakan dalam buku Kupu-Kupu Kuning. Saudara raja Tri Tunggal yang bernama I Gusti Ayu Nyoman Rai diambil menjadi istri oleh Ida Bhatara Gde di Gunung Agung yang kemudian melahirkan Ida Bhatara Alit Sakti yang kini bermukim di Pura Bukit

Padmasana

PADMASANA
Re-writing Version


Oleh: Bhagawan Dwija

1. Sejarah Padmasana

Pemujaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa berkembang di Bali sejak abad ke-9. Simbol pemujaan yang digunakan adalah Lingga-Yoni. Keadaan ini berlanjut sampai abad ke-13 pada zaman Dinasti Warmadewa. Sejak abad ke-14 pada rezim Dalem Waturenggong (Dinasti Kresna Kepakisan), penggunaan Lingga-Yoni tidak lagi populer, karena pengaruh ajaran Tantri, Bhairawa, dan Dewa-Raja. Lingga-Yoni diganti dengan patung Dewa yang dipuja sehingga cara ini disebut Murti-Puja. Ketika Danghyang Niratha datang di Bali pada pertengahan abad ke-14 beliau melihat bahwa cara Murti-Puja diandaikan seperti bunga teratai (Padma) tanpa sari. Maksudnya niyasa pemujaan yang telah ada seperti Meru dan Gedong hanyalah untuk Dewa-Dewa sebagai manifestasi Sanghyang Widhi namun belum ada sebuah niyasa untuk memuja Sanghyang Widhi sebagai Yang Maha Esa, yakni Siwa. Inilah yang digambarkan sebagai padma tanpa sari. Danghyang Niratha setelah menjadi Bhagawanta (Pendeta Kerajaan) mengajarkan kepada rakyat Bali untuk membangun Padmasana sebagai niyasa Siwa, di samping tetap mengadakan niyasa dengan sistem Murti-Puja.

2. Pengertian Padmasana

Padma dalam Bahasa Bali artinya bunga teratai, dan Sana artinya duduk. Dewa Siwa digambarkan sebagai Dewa yang duduk di atas bunga teratai. Bunga teratai yang berhelai delapan tepat pula sebagai simbol delapan kemahakuasaan Sanghyang Widhi yang disebut Asta-Aiswarya. Asta-Aiswarya ini juga menguasai delapan penjuru mata angin. Keistimewaan bunga padma adalah: puncak atau mahkotanya bulat, daun bunganya delapan, tangkainya lurus, dan tumbuh hidup di tiga lapisan: lumpur, air, dan udara. Hal-hal ini memenuhi simbol unsur-unsur filsafat Ketuhanan atau Widhi Tattwa, yakni keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan.

3. Stana-Stana di Padmasana

Stana Sanghyang Siwa Raditya.
Dalam lontar Siwagama diuraikan bahwa Bhatara Siwa mempunyai murid-murid terdiri dari para dewa. Diantaranya ada murid yang paling pintar dan bisa meniru Siwa, murid ini adalah Bhatara Surya; oleh karena itu Bhatara Surya dianugrahi nama tambahan: Sanghyang Siwa Raditya dan berwenang sebagai wakil-Nya di dunia.

Stana Bhatara Guru.
Sebagai rasa hormat dan terima kasih Bhatara Surya atas anugerah yang diberikan, maka Siwa dipuja sebagai guru, dan selanjutnya Siwa dikenal juga sebagai Bhatara Guru.

Stana Bhatara Surya.
Bhatara Siwa acintiya. Bila manusia ingin mengetahui kemahakuasaan Bhatara Siwa, lihatlah matahari karena mataharilah sebagai salah satu contoh asta aiswarya-Nya, karena kehidupan di dunia bersumber dari kekuatan energi matahari.

Stana Sanghyang Tri Purusa.
Dalam Wrhaspati Tattwa, Sangyang  Widhi dinyatakan sebagai Tri Purusa yaitu: Parama-Siwa, Sadha-Siwa, dan Siwa. Parama-Siwa, adalah Sanghyang Widhi dalam keadaan niskala, tidak beraktivitas, tidak berawal, tidak berakhir, tenang, kekal abadi, dan memenuhi seluruh alam semesta. Sadha-Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang beraktivitas sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur. Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang utaprota sehingga nampak berwujud sebagai mahluk hidup.

4. Kelengkapan Niyasa Padmasana

a. Bedawangnala
Lontar Kaurawasrama menyebutkan, dasar gunung Mahameru adalah bedawangnala. Dalam bahasa Kawi, bedawangnala terdiri dari dua kata: beda artinya ruang, dan nala artinya api. Jadi bedawangnala artinya ruang yang berisi api atau magma. Lontar Agni Purana (Kurma Awatara) menyebutkan adanya perang yang sengit antara para Dewa dengan para Detya. Dalam perang itu Dewa-Dewa  dikalahkan. Para Dewa mohon agar Wisnu menyelamatkan. Bhatara Wisnu kemudian meminta kedua pihak yang berperang mengaduk lautan susu di mana gunung Mandara sebagai tangkai pengaduk dan Naga Basuki sebagai tali pengaduk. Para Dewa memegang ekor naga dan para Detya memegang kepala naga. Tetapi ketika perputaran dimulai gunung Mandara yang tidak mempunyai dasar tenggelam ke dalam lautan susu. Bhatara Wisnu yang menjelma sebagai seekor kura-kura raksasa kemudian muncul untuk menyelamatkan gunung Mandara. Oleh karena itu bedawang di Bali dilukiskan sebagai kura-kura yang moncongnya menyemburkan api.

b. Naga
Lontar Siwagama dan lontar Sri Purana Tattwa menyebutkan bahwa setelah bumi diciptakan  oleh Bhatara Siwa dan Bhatari Uma lengkap dengan segala isinya maka pada suatu ketika terjadilah bencana, di mana tumbuh-tumbuhan mati, air menyurut dan udara mengandung penyakit. Sanghyang Trimurti bermaksud menyelamatkan manusia. Brahma berwujud sebagai Naga Anantabhoga yang berwarna merah berada di dalam inti bumi; Wisnu berwujud sebagai  Naga Basuki yang berwarna hitam berada dalam laut, dan Iswara berwujud sebagai Naga Taksaka yang berwarna putih bersayap berada di udara.

c. Garuda Wisnu
Di lontar Adi Parwa diceritakan sebagai berikut: Sang Kadru dan Sang Winata adalah istri-istri dari Bhagawan Kasyapa, Sang Kadru berputra naga yang ribuan banyaknya dan Sang Winata berputra Sang Aruna dan Sang Garuda. Pada suatu ketika keduanya membicarakan Uchaisrawa (kuda putih) yang keluar dari pemuteran  gunung Mandaragiri. Sang Kadru mengatakan warna kuda itu hitam, sedangkan Sang Winata mengatakan kuda itu putih. Karena sama-sama teguh mempertahankan pendapat akhirnya mereka sepakat untuk bertaruh, bahwa siapa yang kalah akan mejadi budak dari yang menang. Para naga putra Sang Kadru tahu bahwa warna kuda itu putih. Untuk memenangkan ibunya para naga menyemprotkan bisa ke Uchaiswara sehingga berwarna hitam. Sang Winata kalah lalu  menjadi budak Sang Kadru. Anak Sang Winata, yakni Garuda, ingin membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda kemudian  bertanya kepada para naga, bagaimana cara membebaskan ibunya. Sang Naga memberi  tahu agar  ia mencari Tirta Amertha. Sang Garuda mencari tirta itu ke Sorga sampai berperang melawan para Dewa namun tidak berhasil. Bhatara Wisnu yang iba pada nasib Garuda bersedia memberikan Tirta Amertha, namun dengan syarat agar Garuda mau menjadi kendaraan Bhatara Wisnu. Garuda bersedia, dan bersama Wisnu terbang mencari Tirta Amertha.

d. Angsa
Angsa adalah simbul ketenangan dan warna putih bulunya adalah simbul kesucian, ketelitian memilih makanan walaupun mulutnya masuk ke lumpur yang busuk toh lumpur tidak termakan, jadi angsa merupakan simbul kebijaksanaan memilih yang baik, di samping itu pula simbul kewaspadaan sebab baik siang maupun malam seolah-olah angsa tidak penah tidur. Di lontar Indik Tetandingan disebutkan sayap angsa yang terkembang adalah simbul Ongkara: kedua sayapnya melukiskan ardha candra (bulan sabit), badannya yang bulat lukisan windhu, leher dan kepalanya yang mendongak ke atas adalah simbul nada.
 
e. Acintiya
Acintiya artinya tidak dapat dibayangkan. Namun niyasa Acintiya dilukiskan sebagai tubuh manusia telanjang dengan api di setiap sendinya serta kaki kanan yang terangkat, kepala tanpa bentuk wajah, dan sikap tangan dewa pratistha. Niyasa itu bermakna: tubuh manusia yang telanjang kiasan dari ciptaan Sanghyang Widhi yang utama; api di setiap sendi adalah simbol energi kehidupan; kaki kanan yang terangkat adalah simbol rotasi alam dan kehidupan yang aktif; kepala tanpa bentuk wajah adalah simbol dari keberadaan yang tidak dapat dibayangkan; sikap tangan dewa pratistha adalah simbol kecintaan Sanghyang Widhi pada hasil-hasil ciptaan-Nya.

5. Bentuk, Fungsi, dan Jenis Padmasana

Bentuk dan fungsi Padmasana ada 4, yaitu:
1.
Padma Sari: mempunyai rong satu, tidak memakai Bedawangnala dengan palih telu. Stana Sanghyang Tripurusha
2.
Padmasana: mempunyai rong satu, memakai Bedawangnala, dengan palih lima. Stana Bhatara Surya
3.
Padma Agung: mempunyai rong dua, memakai Bedawangnala, dengan palih lima. Stana Sanghyang Siwa Raditya
4.
Padma Angelayang: mempunyai rong tiga, memakai Bedawangnala, dengan palih pitu. Stana Bhatara Guru
   
Jenis Padmasana berdasarkan lokasi menurut pengider-ider bhuana (penjuru mata angin) ada 9 jenis,  yaitu:
1.
Padma Kencana: di timur (menghadap ke barat)
2.
Padmasana: di selatan (menghadap ke utara)
3.
Padmasana Sari: di barat (menghadap ke timur)
4.
Padmasana Lingga: di utara (menghadap ke selatan)
5.
Padma Asta Sedana: di tenggara (menghadap ke barat laut)
6.
Padma Noja: di barat daya (menghadap ke timur laut)
7.
Padma Karo: di barat laut (menghadap ke tenggara)
8.
Padma Saji: di timur laut (menghadap ke barat daya)
9.
Padma Kurung: di tengah merong tiga menghadap ke lawangan (pintu keluar)
   
6. Tata Cara Membangun Padmasana

Upacara dan upakara:

Saat mulai membangun.

Caru pengeruak: yaitu caru ayam berumbun lengkap dengan runtutannya dan uripnya adalah 33, serta letaknya asanca-desa, yaitu
Di timur :  5 tanding
Di selatan :  9 tanding
Di barat : 7 tanding
Di utara : 4 tanding
Di tengah : 8 tanding.
Beralaskan sengkwi bersayap; segehan agung, kawisan, kulitnya dan lain-lain di tempatkan di tengah. Byakala , Durmangala, dan Prayascita masing-masing satu. Segehan agung lengkap dengan penyambleh.

Banten Pemakuhan:  yang terdiri dari peras penyeneng, ajuman putih kuning dagingnya ayam betutu, me-ukem-ukem (di sembeleh dari punggung), daksina yang berisi uang 225, canang lengewangi-buratwangi, canang raka, nyahnyah gula kelapa dan tipat kelanan. Banten ini ditaruh di sebuah sanggar di hulu bangunan.

Banten untuk dasar bangbang: adalah tumpeng merah dua buah, dilengkapi dengan jajan, buah-buhan, lauk-pauk dengan dagingnya ayam biying yang dipanggang, sampian tangga. Banten ini dialasi kulit peras.

Canang Pendeman: adalah canang burat wangi, pengeraos, canang tubungan, dan pesucian, masing-masing satu tanding.

Alat penyugjug terdiri dari sebuah tangkai dapdap yang bercabang tiga, sebuah mangkuk kecil, cicin bermata mirah dan sebuah keris. Sebuah bata merah bergambar bedawangnala di mana punggungnya bertulis aksara "Ang" . Sebuah bata merah lain  bergambar padma bertulis dasa aksara: sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya. Sebuah batu bulitan bertulis tri aksara: ang, ung, mang. Sebuah klungah nyuh gading bertulis ong-kara. Kelungah dikasturi airnya dibuang lalu ke dalamnya dimasukkan sebuah kwangen berkulit keraras, berisi uang kepeng 33 buah, bertulis ongkara-amertha. Semua banten di atas setelah diupacarai dan disembahyangi, dimasukkan ke dalam lobang dasar bangunan; selanjutnya batu-batu dan adonan semen dapat dicor di atas banten-banten itu.

Setelah bangunan selesai

Upacara Pemakuhan:
Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bhagawan Wisma Karma (Dewa seni-bangunan) diwujudkan dengan mohon   tirta pemakuh. Peralatan tukang disertakan dalam upacara ini.
Banten Pemakuhan, peras, lis, soroan, daksina, canang lenga wangi, canang burat wangi dan ketipat kelanan. Caru ayam putih  asoroh eteh-eteh pemakuhan asoroh: bagia, orti, sapsap, ulap-ulap, paso anyar berisi air, daun lalang 11 katih, pengurip-urip darah ayam putih,  susur pekeramas, toya cendana, kumkuman, rantasan, seperadeg, semeti, pahat, uang, andel-andel berisi benang. Toya pemakuhan dari undagi  yang membuat sikut.
Urutan upacara:
Ngetok sunduk, mantra: Bhatara semara, angadegang Bhatara Ratih metemuang ageni mastu astu Ang Ah.
Ngetok lait, mantra: Ingsun anangun sawen anging I Dewa Gunung Agung magelung aningkahang anangun sawen, ana ring maca pada rambat rangkung panjang umur, jeng, jeng, jeng.
Pangurip getih ayam putih, mantra: Mangke sira patini sepisan ngurip kita satuwuk bebataran pinaka bungkah nda.
Sendi pinaka pancer nda
Adegan pinaka punyan nda
Abah-abah pinaka pangpang nda
Raab pinaka ron nda
Kelasa pinaka kembang nda
Daging nda, pinaka woh  nda, urip kita jati
Paripurna urip-urip
Penyapsap gidat sesaka, mantra: Pakulun manusan nira anggada kaken sapuha, menyapuha ganda keringetning wewangunan sidhi rastu.
Semeti, mantra: Om Upi Sangagawenku teka pada urip, teka pada urip, teka pada urip.
Baas Daksina, mantra: Om Siwa sampurna  yang namah.
Tatebus, mantra: Jaya Ang Ang Ang Ah

Upacara Melaspas:
Upacara Melaspas bertujuan mensucikan bangunan agar dapat menstanakan Ista Dewata, menyatukan   sekala dan niskala. Unsur-unsur  sekala adalah bangunan suci, dan unsur niskala adalah Sanghyang Widhi atau Ista Dewata.
Pelaksanaan:
Menghaturkan upakara pesaksian ke Surya, dan nunas tirtha pelukatan.
Nyapsap dengan daun dapdap, lalang, dan toya segara. Matatorek dengan warna merah, putih, hitam, memercikkan  tirtha pelukatan, memercikkan tirta pasupati, dan memukul bangunan tanda menguatkan pasak.
Sulinggih memuja banten pemelaspas.

Upacara Ngenteg Linggih.

Urutan upacara:

1. Memangguh
Kata memangguh berasal dari bahasa Bali: kepangguh atau kepanggih, yang artinya menemukan. Maksudnya adalah menemukan sebidang tanah secara niskala yang kemudian digunakan untuk bangunan Padmasana. Secara skala, bidang tanah diperoleh atau ditemukan dengan membeli, hibah, warisan, dll. Namun secara niskala bidang tanah itu dimohon kepada Sanghyang Widhi, sebagai pemilik dan penguasa semesta. Banten upacara memangguh pada umumnya berdasar banten bebangkit dengan runtutannya.

2. Nyengker
Nyengker artinya memberi batas-batas bidang tanah di empat penjuru mata angin, yaitu: utara, selatan, barat dan timur. Batas ini sebagai lanjutan upacara memangguh, dengan pengertian skala dan niskala pula. Secara skala, sengker atau batas berbentuk pagar halaman, dan secara niskala, sengker adalah batas bidang tanah yang dimohonkan ke hadapan Sanghyang Widhi. Pelaksanaan upacara nyengker diwujudkan dengan membubuhkan tepung beras (putih) sekeliling pagar bidang tanah. Bantennya: prayascita, pengulapan, pengambean.

3. Memirak
Memirak dalam bahasa Bali berasal dari kata pirak, yang artinya membeli. Memirak juga ditujukan secara niskala kepada Sanghyang Widhi, lebih dimaksudkan sebagai rasa terima kasih atas ijin dan karunia-Nya karena telah memberikan sebidang tanah. Selain itu dengan upacara memirak, kepada Sanghyang Widhi juga mepiuning (memberitahu) tentang perubahan status tanah, yang sebelumnya mungkin berupa sawah, tegalan, dll., dan kini sudah menjadi sebuah halaman Pura. Banten upacara memirak, dasarnya suci ageng dengan runtutannya, dan seekor babi guling sebagai kelengkapannya. Sebagai stana Ida Bhatari Pertiwi, dibuat sebuah daksina lingga yang setelah upacara selesai akan dihaturkan ke Pura Subak. Setelah banten pemirak selesai dipuja oleh Sulinggih, maka bagian-bagian babi guling yakni irisan: kuping, moncong, keempat kaki, dan ekor, direcah menjadi 5, ditempatkan di 5 takir yang sudah berisi nasi jakan. Kelima takir itu diletakkan dan dihaturkan ke pertiwi masing-masing di batas bidang: utara, selatan, barat, dan timur.

4. Mecaru
Caru dalam bahasa Bali artinya korban, sedangkan car dalam bahasa Sanskrit artinya keseimbangan dan keharmonisan. Dengan demikian maka caru artinya binatang yang dijadikan korban untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan. Yang dimaksud dengan keseimbangan dan keharmonisan adalah Trihitakarana, yaitu tiga hal yang menjadi dasar kehidupan yang baik: parhyangan, pawongan, dan palemahan. Parhyangan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan Sanghyang Widhi. Pawongan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan manusia. Palemahan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan alam. Menurut ajaran agama Hindu-Bali, tanpa ketiga keseimbangan dan keharmonisan itu manusia tidak akan menemukan mokshartam jagaditha.  Dalam kaitan ini, Padmasana sebagai stana Sanghyang Widhi, bukanlah hanya niyasa pemujaan saja, tetapi juga untuk memohon keutuhan Trihitakarana menuju mokshartam jagaditha. Banten caru yang umumnya digunakan pada upacara ngenteg linggih Padmasana minimal Rsigana berdasar Manca sanak.

5. Mendem akah-pedagingan
Mendem artinya menanam. Akah-pedagingan terdiri dari panca-datu, yaitu : emas, perak, tembaga, besi, dan permata. Kelima unsur (panca –datu) adalah simbol isi bumi, yakni logam dan batu mulia yang diciptakan Sanghyang Widhi pada awal terbentuknya bumi. Akah-pedagingan ditanam pada dasar, dan tengah Padmasana.

6. Memasang orti dan ulap-ulap
Orti adalah sejenis jejahitan berbahan daun rontal. Makna orti adalah pemberitahuan bahwa bangunan Padmasana sudah disucikan. Ulap-ulap adalah  rerajahan pada secarik kain putih yang bermakna mensakralkan bangunan pelinggih. Orti dipasang di puncak bangunan, dan ulap-ulap dipasang di bawah orti.

7. Mendem bagia-palakerti
Bagia artinya bahagia; palakerti artinya hasil dari karma (perbuatan).
Isi bagia palakerti adalah berbagai hasil bumi: buah-buahan dan umbi-umbian (pala gantung dan pala bungkah). Bagia-palakerti ditanam di tanah belakang Padmasana bertujuan untuk memohon pahala yang baik kepada Sanghyang Widhi, karena sang maduwe karya telah melaksanakan upacara ngenteg linggih.

8. Memendak Ida Bhatara
Kata Ida Bhatara artinya "Maha Kuasa yang menyayangi dan melindungi". Menstanakan Ida Bhatara di Padmasana, seperti yang diuraikan terdahulu, berarti menstanakan Sanghyang Widhi di bangunan niyasa untuk dipuja. Niyasa (simbol) yang digunakan sebagai pralingga dapat berbagai bentuk, misalnya pretima, gopelan, dan ampilan. Yang umum digunakan adalah ampilan, terdiri dari kotak, daksina lingga, dan runtutannya. Setelah ampilan disucikan dan dipasupati, Ida Bhatara dimohonkan berstana di ampilan itu. Prosesnya dengan muspa ngider bhuwana mulai menghadap ke timur untuk memuja Ishwara, ke selatan untuk memuja Brahma, ke barat untuk memuja Mahadewa, ke utara untuk memuja Wisnu, dan ke timur sekali lagi untuk memuja Tripurusha.

9. Mekalahyas
Dengan berpedoman pada lontar Yadnya Prakerti, diyakini bahwa wateking bhuta-kala  atau roh-roh liar selalu ingin mendapatkan tirtha amertha dalam usahanya untuk meningkatkan kesucian. Oleh karena itu roh-roh liar ini selalu bersembunyi di tempat-tempat suci dengan harapan bila ada upacara maka mereka secara tidak disengaja akan memperoleh percikan tirtha amertha dari puja-mantra Pandita. Demikian pula dengan kotak ampilan yang dimohonkan sebagai stana Sanghyang Widhi, tidak luput dari gangguan para roh liar ini. Agar hal itu tidak terjadi maka para roh liar diberikan lelabaan agar tidak mengganggu jalannya upacara dan tidak bersembunyi di niyasa kotak ampilan Ida Bhatara. Lelabaan itu disebut banten kalahyas. Kalahyas terdiri dari dua kata: kala artinya roh liar; hyas artinya menyenangkan. Jadi kalahyas artinya banten untuk menyenangkan roh-roh liar.

10. Melasti
Melasti dalam bahasa Bali terdiri dari dua kata: mala artinya kekotoran atau noda; asti artinya dibuang. Jadi melasti yang asalnya mala-asti, artinya menghanyutkan kekotoran. Upacara melasti dilakukan di laut, karena kegiatan melasti meliputi dua tujuan, yaitu: menghilangkan kekotoran, dan memohon tirtha amertha kamandalu, yakni tirtha suci yang diyakini membawa kesucian, kebaikan, kemakmuran, dan kejayaan atau umur panjang. Yang dimaksud dengan tirtha amerta kamandalu, adalah air dari tujuh buah sungai suci di India, di mana Weda diwahyukan oleh Sanghyang Widhi melalui tujuh Maha Rsi (Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa). Sungai-sungai itu adalah: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godhawari, Narmada, dan Sarayu. Oleh karena kita tidak mungkin pergi ke India setiap saat untuk melasti, maka dengan pengertian bahwa ketujuh sungai suci itu bermuara ke laut, dan laut di dunia menyatu, maka diyakini laut di selatan India sebagai muara sungai-sungai suci yang telah mengandung unsur-unsur kesucian, sama dengan laut di mana saja. Oleh karena itu jika melasti ke laut dianggap sama dengan mendapatkan air dari ketujuh sungai suci itu. Karena tujuan melasti seperti yang diuraikan di atas adalah untuk menghanyutkan kekotoran dan mendapatkan tirtha suci, maka kegiatan melasti sering disebut: anganyutaken lara-roga tur sarwaning mala, lan amet tirtha amertha kamandalu ring telenging samudra, artinya menghanyutkan kekotoran dan membuang segala keburukan, serta mendapatkan air suci di tengah lautan. Hanya bila ke laut saja dapat disebut melasti, sedangkan bila ke sumber mata air atau sungai, tidak disebut melasti, tetapi mesucian. Tujuan dan faedahnya tentu berbeda.

11. Ngenteg linggih: Karya Pemungkah dan Pedudusan
Ngenteg linggih artinya: mengokohkan kedudukan Ida Bhatara secara niskala di Padmasana; Karya Pemungkah artinya:  Memohon kesediaan Ida Bhatara berstana di Padmasana; Pedudusan, yang berasal dari kata: pedius-diusan, artinya pensucian.
Prosesi upacara :
Setelah niyasa Ida Bhatara datang dari melasti, maka kotak ampilan diletakkan di sanggar tawang. Di sini Ida Bhatara dihaturi banten catur dan dipuja-mantra oleh Pandita. Setelah itu niyasa Ida Bhatara diturunkan dari sanggar tawang, melalui titi-mahmah lalu diletakkan di Bale Peselang. Kemudian Ida Bhatara dihaturi sesajen kemudian di puja-mantra oleh Pandita. Para peserta upacara, bersembahyang memuja Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan penyelamat dunia. Selanjutnya barulah niyasa Ida Bhatara di letakkan di Bale Pahiasan, untuk dihaturi sesajen dan dipuja-mantra oleh Pandita.
Makna upacara :
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di sanggar tawang dan dihaturi banten catur, bermakna niyasa itu mendapat wara-nugraha dari Sanghyang Widhi sebagai Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu.
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di bale peselang, bermakna kehadiran Sanghyang Widhi di alam bwah-loka  untuk menganugrahkan kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan kepada manusia.
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di Pahiasan, bermakna sebagai Sanghyang Widhi yang menerima haturan, persembahan, dan pujaan dari manusia yang telah mendapatkan sinar suci-Nya.

12. Pemuspaan
Pemuspaan adalah sembahyang bersama, diawali dengan puja trisandya dan dilanjutkan dengan kramaning sembah. Setelah itu tirtha wangsuh-pada dan bija dibagikan oleh Jero Mangku. Ida Pandita mengisi waktu luang itu dengan dharma-wacana.

13. Mesida-karya
Upacara mesida-karya biasanya dilaksanakan di hari penyineban Ida Bhatara. Didahului dengan menghaturkan banten banten sida-karya, lalu sembahyang bersama, maka niyasa Ida Bhatara berupa kotak ampilan disimpan di tempat yang baik dan aman, untuk digunakan lagi di hari piodalan Ida Bhatara. Upacara ini bermakna sebagai permohonan dan piuning kehadapan Sanghyang Widhi bahwa rangkaian upacara Ngenteg Linggih telah selesai, serta memohon ampun bila dalam penyelenggaraan upacara ada kekeliruan-kekeliruan.

Sampai disini selesailah semua prosesi sejak membangun Padmasana sampai mengupacarainya, sehingga dengan demikian Padmasana sudah dapat digunakan sebagai niyasa pemujaan  Sanghyang Widhi di setiap saat.


Lampiran: Gambar Padmasana dan Ulap-Ulapnya

* Padmasari



* Padmasana
   

              
* Padma Agung



* Padma Angelayang



Published on: 2008-09-18 (87 reads)

Lis

Oleh: Bhagawan Dwija

Pendahuluan

Lis adalah salah satu bagian penting dari sekelompok banten karena merupakan alat pensucian. Menurut Lontar Yajnya Prakrti, banten memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral. Kalimat yang dikutip dari lontar itu: "Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, Ian pinaka anda bhuwana". Artinya: Semua jenis banten melambangkan diri kita sendiri atau umat manusia secara umum, melambangkan kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi, dan melambangkan alam semesta. Dengan kata lain, banten adalah lambang trihitakarana, yakni tiga hal yang mewujudkan kesejahteraan dunia, yaitu parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan palemahan (hubungan manusia dengan alam semesta).
 
Unsur-unsur banten, selain bunga, plawa (dedaunan), buah-buahan, dan tatuwesan atau reringgitan yang penuh dengan ornamen-ornamen indah, dalam Lontar itu ditegaskan sebagai berikut: "Reringgitan, tatuwesan pinaka kalanggengan kayunta mayajnya, Sekare pinaka kaheningan kayunta mayajnya, Plawa pinaka peh pekayunane suci, Raka-raka pinaka widyadhara-widyadhari". Artinya: bentuk-bentuk ornamen sebagai lambang ketekunan untuk berkorban, bunga sebagai lambang kesucian, dedaunan sebagai lambang pikiran baik, buah-buahan sebagai lambang utusan Dewa-Dewi.

Berbagai Jenis Lis

Salah satu bentuk Lis yang paling populer dan digunakan dalam setiap upacara-upakara, adalah Lis amu-amuan (Bebuu). Lis ini terbuat dari janur dengan isi jejahitan, kemudian diikat menjadi satu, terdiri dari:
1.
Tangga menek: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk tangga naik, sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga hal-hal yang bersifat kebaikan selalu meningkat.
2.
Tangga tuwun: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk tangga turun, sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga hal-hal yang bersifat keburukan berkurang atau hilang.
3.
Jan sesapi: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk burung kecil, sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga tujuan me-yajnya tercapai.
4.
Lilit linting: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk lilitan dalam sebuah lidi, sebagai lambang kebulatan tekad untuk berbhakti kepada-Nya.
5.
Lawat buah: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk buah, sebagai lambang permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi, semoga yajnya yang diselenggarakan mendapat pahala kebaikan.
6.
Lawat nyuh: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk buah kelapa, ditandai dengan menyisipkan secuil sabut kelapa, sebagai lambang permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatara Brahma sang Maha Pencipta, semoga penyelenggaraan yajnya ini direstui dan berjalan lancar.
7.
Tepung tawar: terdiri dari beras berwarna putih, beras berwarna kuning kunyit, dan daun dapdap yang dicincang halus. Beras berwarna putih dan kuning kunyit adalah lambang dari keseimbangan hidup manusia, terutama perwujudan rwa bhineda, misalnya: siang-malam, baik-buruk, lelaki-perempuan, dst. Daun dapdap, dalam Lontar Taru Pramana disebut sebagai don kayu sakti. Sakti artinya kekuatan. Jadi lambang don dapdap adalah kekuatan untuk menjaga keseimbangan-keseimbangan trihitakarana dan keseimbangan-keseimbangan rwa bhineda.

Kramaning Sembah

Kramaning Sembah dalam Panca Yadnya.
1.Pengertian Sembah.
Yang dimaksud dengan sembah ialah sikap menghormati yang disertai dengan rasa bakti dan penyerahan diri secara ikhlas.
2.Landasan.
Menurut agama Hindu bahwa setiap kelahiran dan manusia itu sudah mempunyai hutang yang disebut dengan Tri Rna.
3.Yang dapat disembah:
1.Ida Hyang Widhi Wasa
2.Para Dewa- dewa
3.Para Resi
4.Bhatara/ Leluhur.
5.Manusia.
6.Bhuta.
4.Sikap menyembah.
Adapun sikap menyembah dalam kramaning sembah yaitu sesuai dengan buku Tuntunan Muspa bagi umat Hindu yang disusun oleh I Gusti Ketut Kaler yang diterbitkan oleh Jawatan Agama Hindu dan Budha Prop. Bali tahun 1970/ 1971, dan buku Upadeça tahun 1981/ 1982.
Khusus sikap sembah kepada Resi/ Sulinggih dengan cara cakupan tangan atau mepes ada di antara ulu hati dan dagu.
5.Sarana.
1.Api
2.Air
3.Bunga, dapat dilengkapi dengan kuwangen
6.Mantram.
Sesuai dengan buku Tuntunan Muspa/ buku Upadeça yang disebutkan di atas.
7.Pelaksanaan Sembah dalam Panca Yadnya ialah disesuaikan kepada siapa sembah itu ditujukan.
8.Khusus pada waktu mengucapkan Mantram Tri Sandhya sikap tangan memusti di depan ulu hati.
9.Khusus untuk mendoakan/ ngastawayang bagi jenazah/ roh seseorang yang meninggal dengan berdiri tegak/ pada asama dengan sikap tangan mamusti di pusar.
 
Upacara Sudi Wadani

 
1.Pengertian:
Sudi artinya penyucian, Wadani artinya ucapan- ucapan/ pernyataan berupa kata- kata.
Sudi Wadani adalah penyucian perkataan.
Jadi upacara Sudi Wadani adalah upacara pada waktu melakukan penyucian, menjadi Agama Hindu.
2.Tata cara Upacara Sudi Wadani.
1.Membuat surat permintaan penyucian yang sah.
2.Upacaranya:
1.Mempergunakan bebanten biyakala prayascita dan tataban sesuai dengan kemampuan (utama).
2.Mempergunakan Bhasma air cendana (madya).
3.Mempergunakan air, bunga, bija, (nista),
4.Pelaksanaannya selalu disertai dengan api.
3.Mantram
Om. Sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya, Ang Ung Mang. Om.
Kramaning Sembah
Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.
Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.
Persiapan sembahyang
Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.
Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:
Urutan-urutan sembah
Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut ini:

Kisah Leluhur di Rong Kalih

Kisah Leluhur di Rong Kalih
Tanya Jawab Tatwa
Tjok Rai Sudharta
Ngeroras Metak dan di Bale
Dalam upacara ngeroras di Karangasem dimungkinkan dua bentuk pelaksanaan, antaranya; n geroras metak dan ngeroras di bale. Pertanyaan saya, apa beda kedua pelaksanaan ngeroras tersebut? Dari kedua pelaksanaan itu, mana yang bisa digolongkan pada tingkatan nista-madia-utama. Benarkah kalau dengan ngeroras di bale, setelah nuntun Dewa Hyang dilinggihkan Gedong Rong Kalih. Sementara dengan ngeroras metak, setelah nuntun Dewa Hyang dilinggihkan di Sanggah Kemulan Rong Tiga? Terkait dengan pelinggih Sanggah Kamulan, di wilayah lain di Bali jarang orang mendirikan Kemulan Rong Kalih, cukup Sanggah Kemulan Gedong Rong Tiga. Umumnya di Karangasem, selain mendirikan Sanggah Kemulan Rong Tiga, orang juga mendirikan Kamulan Rong Kalih. Pertanyaan saya, siapakah yang berstana di Sanggah Kemulan Rong Kalih, di ruangan kiri kanan. Adakah pendirian Sanggah Kemulan Rong Kalih berdasarkan sastra agama, atau lontar?
I Komang Pastra
Jl. Gajahmada, Amlapura
Jawab:
Dari pertanyaan saudara Komang ada dua butir pertanyaan yang penulis angkat untuk dijawab. Pertama mengenai Dewa Hyang yang “melinggih” di Sanggah Kemulan. Butir kedua mengenai Rong Tiga dan Rong Kalih itu sendiri.
Mengenai Dewa Hyang dapat penulis sampaikan bahwa zaman dahulu antara tahun 2000 sampai dengan 500 S.M telah terjadi perpindahan bangsa Austronesia secara bergelombang dari Asia Tenggara di Ulu Sungai Mekang, Yunan Selatan ke berbagai pulau/kepulauan. Mereka datang antara Madagaskar di barat sampai pulau Paska di timur, dan antara pulau Formusa di utara sampai pulau Selandia Baru di selatan. Termasuk ke kepulauan Nusantara.
Kedatangan mereka ke kepulauan Nusantara terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi sekitar tahun 2000 SM, dan gelombang kedua terjadi tahun 500 SM. Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama disebut Proto Melayu. Bangsa Proto Melayu masih menggunakan alat-alat dari batu, tetapi cara pembuatannya sudah sangat halus. Oleh karena itu mereka disebut pendukung kebudayaan batu baru. Dan zamannya disebut zaman Batu Baru (Neolitikum). Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami daratan Bali. Hal ini terbukti dari ditemukannya peninggalan-peninggalan zaman Batu Muda tersebar di pulau Bali (Soekmono, 1073).
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua disebut dengan Deutro Melayu. Bangsa Deutro Melayu inilah yang merupakan nenek moyang sebagai orang Bali Asli. Adanya sebutan Bali Mula adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya datang belakangan ke Bali, yang mereka datang umumnya dari Jawa. Orang-orang Bali Mula adalah keturunan orang-orang pemberani, wira usaha mandiri, pelaut yang ulung, kemudian menjadi petani yang tangguh. Mereka hidup secara berkelompok (Sutaba, 1980:19).
Dari temuan-temuan Arkeologi disimpulkan bahwa ada tiga jenis pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali karena pengaruh Austronesia yang berkembang pada zaman itu, yaitu:
•  Pemujaan terhadap arwah leluhur.
•  Pemujaan terhadap arwah para pemuka masyarakat.
•  Pemujaan terhadap kekuatan alam.
Roh-roh tersebut dapat memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan bencana. oleh karena itu untuk mengambil hati roh-roh tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan bantuan) maka roh tersebut dipuja melalui persembahan saji-sajian. Yang pertama yang dipuja adalah roh orang-orang besar dan roh nenek moyang, yang disebut Hyang atau Dang Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di Kemimitan Sanggah/Pemerajan.
Mengenai susunan masyarakat nenek moyang pada zaman itu dapat diperkirakan bahwa mereka sudah mempunyai sistem kemasyarakatan yang teratur. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok tertentu menempati wilayah tertentu, yang disebut wanua. Setiap wanua dipimpin oleh yang dituakan dan yang dianggap paling bertuah, yang disebut tuha wahana. Tuha wahana dibantu oleh beberapa perangkat wahana seperti tuha alas, hulu air, hulu watan dan sebagainya. Disamping itu terdapat dewan tuha-tuha sebagai pendamping tuha wanua.
Mata pencaharian utama bagi yang tinggal di pedalaman adalah bertani dan berternak. Sedangkan yang tinggal di pantai adalah menangkap ikan dan pelayaran dengan perahu bercadiknya. Di samping itu terdapat juga pekerjaan-pekerjaan sambilan seperti dukun dan pertukangan. Oleh karena majunya pertukangan pada zaman itu maka zaman itu juga disebut zaman pertukangan (zaman perundagian). Dengan adanya spesialisasi pekerjaan tersebut, maka mulailah sistem perdagangan secara tukar-menukar (barter).
Dengan adanya kemajuan dalam pembikinan alat-alat pertanian maka hasil-hasil pertanian semakin meningkat. Oleh karena itu tukar menukar tidak hanya dilakukan dalam wanua sendiri, tetapi sudah terjadi barter antar wanua. Disamping itu nenek moyang kita yang memang merupakan pelaut-pelaut ulung secara aktif ikut terlibat dalam perdagangan dengan perdagangan luar negeri seperti India dan Tiongkok.
Jauh sebelum datangnya pengaruh Hindu ke daerah Nusantara, berdasarkan hasil-hasil penelitian arkeologi yang dilakukan para ilmuwan Barat dan putra Indonesia, di Indonesia telah mempunyai kebudayaan yang tinggi mutunya. Kebudayaan Indonesia asli yang dimaksudkan disini adalah kebudayaan sebelum datangnya pengaruh kebudayaan Hindu atau disebut pula Kebudayaan Pra-Hindu atau Pra Sejarah. Kebudayaan ini berakar pada kebudayaan bercocok tanam yang berlangsung pada tahun 2500 SM.
Guna kepentingan pemujaan arwah leluhur, pada masa perundagian masyarakat Indonesia mendirikan bangunan tempat pemujaan yang disebut punden berundak yaitu bentuk bangunan yang teras piramida dimana pada bagian atasnya ditempatkan: menhir. Pada perkembangan selanjutnya menhir sebagai lambang tempat pemujaan arwah leluhur digantikan dengan wujud arca sederhana atau ada yang menyebut arca primitif karena bentuknya memang sangat sederhana.
Beberapa ilmuwan Barat menyatakan pendapat yang sama seperti: Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali, 1937 menyatakan: The Balinese Assimilate New and Foreign Ideas Into Tradisional Form. Demikian pula Fritaz A Wagner, 1959 dalam bukunya Indonesia, The Art of an Island Group menyebutkan: On Bali Culture Develop a unique character, Pra Hindu, Hindu-Budha, Hindu Javanese element merged to form unity and diversity.
Menurut ilmuwan Perancis Dr. G. Cocdes yang ahli tentang sejarah kuna Asia Tenggara dalam bukunya The Indianized State in South East Asia , 1968 menyatakan ada beberapa elemen-elemen kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara sebelum datangnya pengaruh Hindu adalah :
•  Penanaman padi dengan sistem pengairan.
•  Menjinakkan binatang, lembu dan kerbau.
•  Teknik menuang logam.
•  Kepandaian dalam pelayaran.
•  Sistem kekerabatan material.
•  Dibidang kepercayaan, percaya pada pemujaan roh leluhur.
•  Tempat sucinya berbentuk teras piramid dengan menhir di atasnya.
•  Sistem penguburan dengan memakai sarkofa dan tempayan.
•  Konsep cosmological dualisme yaitu gunung dan laut.
Dr. WF Stutterhiem dalam tulisannya yang berjudul Indian Influence in Old Balinese Art, 1935 menyatakan: “ The Balinese applaid the aquired knomledge from Indonesian order arrive at his own system”. Sebagai contoh kearifan lokal kebudayaan Bali pada aspek keagamaan adalah sistem pemujaan arwah leluhur yang dianut masyarakat pada masa megalitik melanjut terus setelah datangnya kebudayaan Hindu. Kedua sistem kepercayaan ini berdampingan antara pemujaan arwah leluhur (Hyang) yang disebut bhatara dan pemujaan Tuhan yang disebut Hyang Widhi Wasa atau Hyang Parama Kawi.
Demikian pula tempat-tempat pemujaan atau Pura, ada yang dikelompokkan untuk pemujaan roh suci leluhur (bhatara) disebut : Pura Dadia atau Paibon, Padharman dan untuk Hyang Widhi disebut Kahyangan Jagat seperti Kahyangan Tiga dan Sad Kahyangan. Di dalam pura ada bangunan suci tempat pemujaan roh suci leluhur dan Hyang Widhi dibangun berdampingan yaitu Padmasana sebagai Singgasana Hyang Widhi dan Kemulan, Pajenengan sebagai tahta Ida Bhatara, leluhur suci.
Terjadinya hubungan antara kedua kebudayaan antara pra sejarah dan Hindu mewujudkan satu integrasi yang utuh antara tradisi, agama dan kebudayaan serta mewujudkan suatu konfigurasi nilai yang menjadi landasan dasar bagi pembentukan identitas manusia dan masyarakat Bali. Konfigurasi nilai dasar tersebut terdiri dari nilai-nilai solidaritas, estetis dan religius.
Kemudian datang pengaruh agama Hindu dengan filsafat-filsafatnya. Mengenai Sanggah Kemulan Rong Kalih dan Rong Tiga dapat saya ajak saudara ke bidang filsafat yaitu filsafat Sangkhya. Filsafat India ini yang merupakan filsafat dualistis datang juga ke Bali dengan ajaran Cetana dan Acetananya. Karena memang manusia Bali sudah mempunyai kearifan lokal pelajaran filsafat Sangkhya itu diolah sesuai dengan desa kala patra yaitu keadaan daya pikir manusia Bali yang menganut Siwaistis. Oleh karena keadaan Cetana dan Acetana diganti dengan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa Atma yang disebut Maya Siwa Tattwa.
Apabila Cetana dan Acetana terpisahkan akan lenyaplah alam semesta ini bagaikan impian yang lenyap mengikuti kesadaran yang bangun dari tidur. Cetana itu ada yang bersifat kuat, sedang dan kendor (lemah) maka menurut sifatnya dibagi atas tiga bagian masing-masing dengan nama: Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma atau Sanghyang Mayasiwa Tattwa.
Parama Siwa Tattwa
Parama Siwa Tattwa, menjadi sumber dari segala yang hidup, yang memenuhi luar dan dalam dari segala yang ada, baik yang nampak maupun yang tiada tampak. Dialah kesadaran yang tertinggi yang tiada terjamah oleh lupa yang sejati hidup Dialah yang disebut dengan nama Sanghyang Widhi. Dia kekal tiada berubah, tiada dilahirkan, tua maupun mati. Tiada awal dan tiada akhir. Oleh karena itu tidak dapat mendengar, merasa, melihat, maupun mencium dan berpikir. Benar-benar bersih sebab tiada terjamah rasa suka duka. Ia tiada termasuk ke dalam siklus utpatti, sthiti dan pralina yaitu lingkungan kelahiran, hidup dan mati. Tak dapat dihitung sebab tiada terbilang.
Sadasiwa Tattwa
Kesadaran tingkat kedua berada di bawah Parama Siwa, juga sama bersifat gaib, suci nirmala yang menjadi jiwa dari segala yang bernyawa. Dijunjung dan dimuliakan serta dipikirkan oleh para Wiku. Meskipun seolah-olah sama kegaiban dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Parama Siwa, namun ada hal-hal yang dapat membedakannya. Dia telah mulai terjamah oleh kebingungan. Tetapi kebingungan yang ada pada beliau itu adalah berupa kekuatan (sakti) yang dapat memenuhi apa yang dikehendaki. Apa yang dipikirkan dan dikehendaki pasti terwujud dalam seketika. Kekuatan yang dapat memenuhi segala kehendak itu disebut juga Cadu Sakti artinya memiliki empat kemahakuasaan yang disebut:
•  Dujana Sakti (memiliki pengamatan tembus, Batel tingal)
•  Wibhu Sakti (memiliki kekuatan yang gaib)
•  Prabhu Sakti (memiliki kekuatan terhadap alam semesta)
•  Kriya Sakti (mempunyai kekuatan membentuk diri sekehendak hati).
Siwatma Tattwa
Kesadaran ketiga di bawah Sada Siwa Tattwa, dinamai Sanghyang Siwatma, juga disebut Sanghyang Mayasiwa Tattwa. Siwatma Tattwa inilah dikatakan mulai tercemar oleh kelembutan dari Tattwa yang berada di bawah yang disebut Acetana, yang berarti lupa atau tak sadar. Kesadaran yang telah bercampur dengan lupa atau bingung. Tegasnya Sanghyang Siwatma Tattwa telah terjamah oleh Triguna (Satwa, Rajah, Tamah).
Kebingungan inilah yang menyebabkan beliau itu gelisah ingin mengadakan Tattwa disini yaitu Purusa Tattwa menurun hingga pada Panca Mahabhuta Tattwa. Perlu pula ditegaskan bahwa Sanghyang Siwa yang tiga itu yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma itu hakekatnya adalah tunggal, semua bersifat suci, dan bersih yang menjadi sumber kehidupan alam semesta. Yang menyebabkan seakan-akan ada perbedaan sebenarnya terletak pada pengaruh kesadaran itu saja.
Demikianlah halnya ketika Sanghyang Siwa itu, dengan kesadaran beliau yang memenuhi alam semesta ini dapat bercampur oleh bermacam-macam warna seakan-akan beliau ini berbeda-beda. Jelaslah bahwa hanya pengaruh kesadaran beliau yang memenuhi alam semesta ini dapat bercampur oleh bermacam-macam warna seakan-akan beliau itu berbeda-beda. Jelaslah bahwa hanya pengaruh kesadaran beliau itulah yang kemudian terkena oleh Maya lalu bercampur. Itulah yang disebut Maya Siwa Tattwa. Kalau Cetana (Siwa Tattwa) bertemu dengan Acetana (Maya Tattwa) terjadilah Purusa Tattwa dan Pradana Tattwa.
Kembali pada pokok pembicaraan yaitu Rong Tiga dan Rong Kalih. Bagi arwah yang sudah masuk ke dalam Parama Siwa Tattwa maka beliau yang sudah bersthana di Ruang Tiga tidak lagi akan menitis atau menjadi bagian lagi dari keluarga asalnya.
Sedangkan Beliau yang baru ditingkat Sada Siwa Tattwa apalagi Maya Siwa Tattwa beliaulah yang bersthana di palinggih Ruang Kalih. Beliau masih berkomunikasi dengan warga yang ditinggal, beliau masih bisa “turun” (ngidih nasi) di keluarga-keluarga asalnya.
Tidak ada efeknya antara ngeroras metak atau ngeroras di bale atau upacara nista, madya dan utama sendiri. Yang menentukan adalah karma wasananya. Apakah harus tinggal di Maya Siwa Tattwa atau bisa terbebas ke Parama Siwa Tattwa. Kita bisa menentukan apakah leluhur kita itu bisa “turun” (ngidih nasi) pada keluarga kita atau tidak. Kalau tidak, artinya beliau sudah bersthana di Rong Tiga sudah menyatu dengan Purana Siwa. Memang ada rontal Gong Wesi sebagai berikut:
Yang distanakan di kemulan untuk dipuja bukanlah Dewa tetapi Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh karena itu disebut Dewa Pitara. Fungsi Merajan Kemulan sebagai tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa lontar sebagai berikut :
……. ngarania ira sang Atma, ring Kamulan tengen Bapanta nga Sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga …..
artinya:
……namanya beliau Sang Atma, pada Kemulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada Kemulan kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada Kemulan tengah wujudnya adalah sang atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sanghyang Tunggal mempersatukan diri.
Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa sebagai berikut:
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.
Artinya:
Pada kemulan nama Beliau adalah Sang Hyang atma, di Kemulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah Bapak. Di Kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah ada wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang Tuduh.
Ada pengalaman pribadi penulis. Datuk penulis meninggal dan sudah di Palebon dan di Ligya. Suatu saat roh beliau menitis pada keluarga misan penulis. Tetapi umurnya hanya tiga oton (satu setengah tahun). Setelah meninggal kemudian menitis lagi pada keluarga kakak kandung penulis. Juga umurnya tiga oton. Akhirnya menitis lagi pada keluarga penulis sendiri. Juga umurnya tiga oton (satu setengah tahun). Setelah itu tidak pernah menitis lagi. Menurut pemikiran penulis pada waktu roh beliau menitis tiga kali roh beliau masih di Rong Kalih. Setelah itu roh beliau sudah melinggih di Rong Tiga. Sehingga tidak lagi menitis pada keluarga di dunia fana ini lagi. Jadi sekarang roh beliau yang sudah suci sekali sudah bersatu dengan Parama Siwa. Kalau istilah Bali, beliau sudah sedang ngayah di Pura Dalem sana.
(Majalah Sarad Bali - edisi Juni 2008).

Kepercayaan Animisme

Kepercayaan Animisme
 
Pengenalan
Sistem kepercayaan orang Melayu dan masyarakat pribumi di Sabah dan Sarawak adalah terlalu banyak. Namun begitu, apa yang jelas dilihat ialah segala jenis kepercayaan ini merupakan rentetan daripada kepercayaan asal orang Melayu iaitu kepercayaan terhadap animisme. Kewujudan kepercayaan ini telah mempengaruhi setiap aspek kehidupan mereka dan akhirnya mereka menyembah pelbagai unsur alam semesta supaya mereka tidak terlibat dalam kemalangan.
 
Apa itu animisme ?
Mengikut encyclopedia, kepercayaan animisme merupakan peringkat awal manusia mulai mempunyai agama. Perkataan animisme berasal daripada perkataan Latin “Animis” yang membawa makna nyawa atau roh. Mengikut kepercayaan ini, mereka percaya bahawa alam ini mempunyai pelbagai kuasa yang menunggu atau mendiami di gunung, bukit, busut, sungai, laut, pokok dan tanaman. Kepercayaan ini pasif kepada alam sekitar atau dengan kata lain alam sekitar mempengaruhi manusia. Dalam usaha mencari makanan seperti memburu, mengutip hasil hutan, mereka telah mewujudkan interaksi dengan alam sekitar. Dalam perinteraksian ini, mereka telah melihat pelbagai keanehan alam seperti bintang-bintang yang bertaburan telah mengeluarkan cahaya pada waktu malam dan sinaran matahari pada waktu siang. Mereka menganggap semua benda ini berkuasa dan menyembah benda alam semula jadi ini supaya dapat memperolehi pertolongan daripadanya. Apabila mereka membuat permintaan pertolongan, mereka akan memuja benda ini. Sebagai contoh, masyarakat Melayu memuja padi supaya dapat memperolehi hasil pertanian yang lumayan. Aktiviti pemujaan ini dilakukan melalui penggunaan khidmat orang tengah yang mempunyai keahlian ilmu ghaib seperti pawing, dukun dan bomoh. Aktiviti ini juga disertai dengan pelbagai upacara. Ciri yang paling utama bagi kepercayaan animisme ialah percaya kepada kewujudan roh atau semangat.

a. Masyarakat ini percaya bahawa roh seseorang yang mati akan merayau ibarat tanpa tuan.
b. Mereka juga percaya roh orang mati akan menganggu mereka.
c. Mereka percaya setiap roh orang mati akan kembali datang melawat mereka juga.
d. Maka, mereka akan selalu mengadakan arwah seperti pada hari ke-3, 7, 100 dan sebagainya.
e.  Mereka percaya kepada semangat-semangat iaitu satu kuasa ghaib terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan binatang, maka pemujaan telah diadakan oleh pawang untuk kebaikan seperti pagi menjadi, hindari bencara alam.
f. Selain itu, pantang larang juga diamalkan seperti hormat kepada laut dan sungai.

Setelah kehadiran Islam, segala kepercayaan ini perlahan-lahan hilang atau diubahsuai, contohnya semangat atau roh itu dikaitkan dengan syaitan, iblis dan jin.



 Animisme, Dinamisme dan budaya Lisan


 
Banyak penulisan tentang sejarah, menceritakan tentang sebelum adanya ajaran agama ajaran yang di pakai pada suatu masa adalah animisme dan dinamisme tapi apakah arti dari animisme dan dinamisme sebenar nya?
 
sebenarnya sangatlah tidak masuk akal ketika sebuah kata animisme dan dinamisme dilegitimasikan sebagai ajaran yang sebelum ada sebuah agama, kenapa? sebab pada dasarnya konon dalam beberapa sumber dikatakan bahwa animisme adalah “pemujaan terhadap arwah leluhur” (?) kalo dikatakan begitu terlihat sebuah kata sangat extrim yang menyudutkan kepada sebuah  masa (jaman) yang digunakan untuk kepentingan kepentingan tertentu, sebab pada dasarnya bila dilihat dari makna kata “pemujaan terhadap leluhur” mempunyai arti persamaan dengan “penghormatan terhadap leluhur” atau “menghargai terhadap leluhur” atau dalam bahasa modern disebut dengan “mengerti tentang sejarah”, biasanya sebuah perilaku penghormatan terhadap leluhur adalah menghagai karya karya peninggalannya (baik berupa bangunan fisik, sastra, dsb) dan mengerti tentang arti kenapa, sebab apa, dan bertujuan apa…….
 
jadi bisa diperoleh sebuah arti kata animisme berarti “mengerti tentang sejarah”… ketika sebuah kata “animisme” di jadikan sebuah kata yang dikonotasikan buruk, maka wajar ketika mempelajari nya banyak sekali persepsi buruk terlontar terlebih dahulu, padahal belum memahami esensi dari kenapa, sebab apa dan bertujuan apa…..
 
Dinamisme, dikatan sebagai “pemujaan terhadap roh (sesuatu yang tidak tampak mata)” apabila di urutkan seperti diatas bisa juga diartikan “menghormati terhadap mahluk(non fisik) lain” ,nah arti kata menghormati sebenarnya memiliki sebuah arti yang bersifat mengerti dan memahami sehingga terbit rasa saling menghormati… kemudian ajaran menghormati pendahulu dan mahluk lain kadang dikatakan sebagai animisme dan dinamisme oleh banyak literature yang menceritakan sejarah….. 
 
Sekarang coba kita lihat agama, apakah ada agama yang tidak mengajarkan tentang penghormatan terhadapa sejarah (perilaku pendahulu) dan kepercayaan terhadap mahluk lain? …… tetapi entah kenapa disebutkan di banyak tulisan sejarah menyebutkan sebelum adanya agama masuk, dikenal dengan kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme ….. pertanyaan nya apakah “nama” agama hanyalah sebagai simbul dari sebuah penandaan wilayah atau jaman saja?
 
Kemudian budaya Lisan, budaya lisan sebenarnya memegang sebuah peranan yang sangat penting kenapa di banyak tulisan saya diblog saya ini berulang ulang saya tuliskan tentang urut urutan tentang mempelajari sebuah hal…. Saya tuliskan kembali urutan urutannya sebagai berikut…..
-         Mendengar, karena mendengar maka orang akan tertarik… ketika orang tersebut tertarik maka orang tersebut berusaha mengingat dan mencari… maka terbit kenginan untuk membaca…
-         Membaca, sudah seharusnya ketika membaca sebuah bacaan adalah mendalami bahan bacaan tersebut dengan cara menambah refrensi dari bacaan yang terkait……
-         Menambah refrensi bacaan yang terkait, semakin banyak yang dibaca maka kemungkinan mengerti akan hal tersebut, jadi ketika mendalami sebuah hal tersebut wawasan yang di perolehnya semakin luas…..
-         Mendalami, mendalami sebuah hal sangatlah sulit ketika kita tidak mencari dari banyak sumber dan banyak diskusi sebab kadang tanpa melewati banyak sumber dan banyak diskusi sebuah pemahaman akan menjadi sempit…..
-         Mengembangkan, mengembangkan harusnya adalah sebuah hal yang dilakukan apabila mengerti dengan benar benar sebab tanpa mengerti dengan benar pengembangan yang dilakukan hanyalah bersifat konyol dan pengawuran…. Tetapi pengembangan dari sebuah meteri adalah sebuah proses yang harus dilakukan sebab kita harus sadar bahwa setiap manusia mempunyai tipe tipe tertentu pengembangan diri adalah termasuk dalam proses menemukan jati diri kita sehingga kita bisa benar benar mantap untuk mandiri…..
 
Nah, dari urutan urutan tersebut sangat terlihat bagaimana pentingnya budaya lisan, ketika sebuah budaya lisan dipangkas dengan budaya menggunakan bahasa lain, maka bisa dipastikan urutan urutan tersebut ikut terpangkas dan kemudian urutan urutan tersebut akan mengikuti dari budaya bahasa yang memangkasnya….
 
Oleh sebab itu pengetahuan akan bahasa sangatlah penting, entah bahasa apapun itu, sebab ketika sebuah pengetahuan akan bahasa (serta penulisannya) tidak ada, maka teramat sulit mempelajari setiap catatan catatan yang ditinggalkan dari pengguna bahasa tersebut…..
 
 

Karma

Karma dan Watak
OM Svastyastu,
Kiriman : Putra Semarapura
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=139731

Oleh I Made Murdiasa, S.Ag
"KARMA" dapat berarti berbuat. Segala perbuatan ialah karma, dapat pula diartikan sebagai akibat dari perbuatan, yang secara batiniah dimaksudkan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebab dari perbuatan-perbuatan yang lampau. Dalam falsafah timur dikemukakan bahwa pengetahuan adalah cita-cita atau tujuan hidup seseorang dan kesenangan bukanlah suatu tujuan hidup seseorang. Amatlah keliru jika kita menduga bahwa kesenangan itu adalah tujuan hidup, sebab dari sekian banyaknya kesulitan yang menimpa seseorang di dunia ini ialah karena adanya pikiran yang keliru bahwa kesenanganlah yang harus di kejar. Setiap keadaan suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan merupakan guru-guru bagi kita dalam upaya memperoleh suatu pengetahuan dari pengalaman, yang kemudian akan meninggalkan berbagai kesan yaitu dari baik dan buruk yang akan membentuk "karakter atau watak seseorang".

Dalam setiap kehidupan orang-orang besar, sudah pasti mereka telah menerima pelajaran-pelajaran dari kesusahan bukan dari kesenangan, dan kemiskinan memberikan pelajaran yang lebih berarti daripada kekayaan. Semua pengetahuan baik duniawi maupun rohani, ada di dalam pikiran seseorang. Dalam banyak hal pengetahuan itu tidak diketemukan karena ia tinggal tertutup, bilamana tutupan itu perlahan-lahan di buka maka kita berkata "kita mengetahui", dan kemajuan dari pada ilmu pengetahuan disebabkan oleh kemajuan dari proses pembukaan pikiran. Orang yang lapisan-lapisan pikirannya sudah tersingkap semuanya disebut orang yang sangat mengetahui (Waskita).

Perbuatan-perbuatan besar bisa terjadi karena gabungan-gabungan dari perbuatan-perbuatan kecil, bila kita berdiri di tepi laut dan mendengar gemuruh ombak-ombak yang mendampar batu-batu karang atau gulungan ombak yang besar-besar, padahal gulungan ombak itu terdiri dari jutaan ombak-ombak kecil yang masing-masing membuat suara sendiri-sendiri, hanya kita tak dapat menangkap suara itu, melainkan bila tergabung menjadi satu barulah kita mendengar suara gemuruh.

Jika kita sungguh ingin menimbang watak atau karakter seseorang, janganlah menilai hanya satu pekerjaan luar biasa yang dilakukannya, namun kita harus memperhatikan saat orang itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-harinya, karena itulah yang dapat menunjukan karakter orang yang sesungguhnya. Orang yang sesungguhnya besar adalah dia yang selalu memperlihatkan sifat-sifat agung meski di tempat manapun dia berada dan karakter-karakter itu bisa kita bentuk sejak dini, karena karma yang kita lakukan sekarang ini bisa mempengaruhi karakter kita pada kehidupan mendatang.

Karakter itu sesungguhnya dapat membangkitkan atau menggerakkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri seseorang, jika diikuti dengan kemauan, karena sebagaimana adanya karma, demikian pula perwujudan dari pada kemauan. Orang-orang yang memiliki kemauan besar adalah pekerja-pekerja yang hebat. Dalam Bhagawad Gita dijelaskan "hanya dengan perbuatanlah seseorang itu bisa memperoleh kesempurnaan, karena itu hendaknyalah pekerjaan itu dilakukan untuk pemeliharaan dunia". Perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu telah ditentukan oleh karma. Tidak ada seorang pun akan memperoleh sesuatu kecuali ia memang berhak mendapatkannya, inilah suatu hukum abadi. Namun kadang-kadang kita tidak berpendapat demikian, akan tetapi pada kesimpulannya haruslah kita meyakini diri kearah hukum tersebut. Karma kita memberi ketentuan apa yang patut dan apa yang dapat kita lakukan. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita laksanakan, apa yang kita inginkan, kita memiliki kemauan untuk menjadi apa yang kita harapkan itu. Jika apa adanya kita sekarang ini sebagai akibat dari penghidupan kita yang lampau, maka hal inipun akan berlaku pada apa yang kita inginkan di kemudian hari, dapat kita bentuk dan kerjakan pada waktu sekarang ini. Kita harus mampu melakukannya secara benar untuk tujuan yang lebih sempurna, karena kelahiran sebagai seseorang adalah suatu kesempatan yang sangat utama dengan diberikannya pikiran sehingga kita mampu berpikir kearah yang lebih baik untuk menolong diri kita sendiri dari kelahiran yang berulang-ulang.

Dalam Bhagawad Gita diterangkan tentang karma bahwa bekerja hendaklah memakai kecerdasan dan secara ilmiah, dengan mengerti bagaimana bekerja secara benar untuk memperoleh hasil yang terbesar. Kita harus tahu bahwa semua perbuatan atau pekerjaan hanyalah pembangkitan dari kekuatan pikiran yang sudah ada, untuk membangunkan sang jiwa.

Bekerja untuk kepentingan pekerjaan, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagawad Gita bahwa "pekerjaan yang dilakukan tanpa mengikatkan diri pada hasil akan mencapai tujuan yang tertinggi". Jika seorang bekerja tanpa mengandung tujuan dalam arti mampu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan untuk memperoleh sesuatu, apakah kelak ia akan mendapatkan sesuatu ? Ya. Pastilah ia akan mendapatkan sesuatu yang tertinggi. Tiada mementingkan diri adalah hasil keuntungan yang paling tinggi yang akan diperolehnya, hanya saja jarang orang yang sabar melaksanakannya. Bekerja tanpa mementingkan diri akan menghasilkan kesehatan yang besar pula. Cinta kasih, kejujuran dan tidak mementingkan diri bukan hanya khayalan dalam kata-kata yang kosong, tetapi kebajikan-kebajikan tersebut sesungguhnya membentuk cita-cita hidup kita yang luhur dan mulia, didalamnya terletak kekuatan untuk diwujudkan dalam perbuatan. Siapapun dari kita boleh mengharap, cepat atau lambat jalan perjuangan hidup kita melalui pekerjaan ini, pasti akan tiba saatnya bahwa semua dari kita akan menjadi sempurna seluruhnya dan pada saat itulah kita mencapai suatu keadaan dimana diperolehnya suatu kebahagiaan yang abadi.**
Source :   HDNet